Kontak Kami

( pcs) Checkout

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Minggu & Hari Besar Tutup
Bahan Gamis terbuat dari Kain Wolfis Grade A Ukuran Gamis Mulai dari M,L dan XL satu set dengan Hijab dan Cadarnya
Beranda » Artikel Terbaru » gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat

gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat

Diposting pada 21 March 2017 oleh admin

gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat – jika anda ingin mengetahui lebih banyak tentang produk kami ini  silahkan hubungi kami di WA/SMS/HP : 0818719538

Diantara syarat jilbab perempuan muslim yang syar’i itu lebar, tidak cocok badan dan juga tidak sempit. Lebarnya jilbab ini semestinya bisa menutupi semua lekukan badan perempuan. penjelasan Jilbab/Kerudung/Baju Muslim/Gamis Syar’i

gamis syar'i ditinjau dari sisi syariatGamis syar’i ditinjau dari sisi syariat Lihatlah bagaimana penjelasan jilbab yang syar’i dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam  di dalam hadits dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu’anha :

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memenyuruh perempuan yang dipingit (juga perempuan yang haid) pada hari Ied, untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian seorang perempuan berkata: ‘Wahai Rasulullah apabila diantara kami ada yang tidak memiliki baju, lalu bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya temannya memakaikan sebagian bajunya‘” (HR. Abu Daud, no.1136. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud)

Salah satu keutamaan hadits ini ialah bahwa jilbab perempuan perempuan muslim itu semestinya lebar. Kalimat تلبسها صاحبتها طائفة من ثوبها dapat dimaknai juga ‘hendaknya temannya memakaikan sebagian baju yang dipakainya ‘. Sebagaimana kata Syaikh Ibnu Jibriin:

“Hadits di atas memperlihatkan dengan jelas kepada kita semua bahwa sebuah pakaian bagi muslimah atau jilbab yang baik itu berbentuk rida’ yang lebar lagi longgar, begitu lebarnya terkadang bisa muat untuk menutupi dua orang perempuan sekaligus di dalamnya ”

Al Qurthubi berkata:

“ jalaabiib yakni sebuah bentuk jamak dari jilbab. Jilbab atau hijab ialah baju yang lebih
besar dari khimar. Dan dikisahkan juga dari Ibnu ‘Abbas bahwa jilbab itu berupa rida’”
(Tafsir Al Qurthubi, 14/234).

gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat memang begitulah jilbab yang syar’i, yaitu lebar, yang lebarnya itu seolah-olah bisa muat untuk menutupi dua perempuan. Tidak meperlihatkan lekukan badan Dan apabila jilbab dianggap sudah lebar namun masih menampakkan sebagian bentuk badan, maka yang demikian kurang sempurna.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata:
“Syarat yang nomor empat: baju atau pakaian seorang perempuan muslimah itu sebaiknya longgar dan tidak terlihat ketat sehingga bisa meperlihatkan lekak lekuk bagian badannya. Karena tujuan memakai baju itu ialah
untuk bisa mencegah terjadinya fitnah (baca:hal-hal yang buruk). Tujuan tersebut tidak akan tercapai kecuali apabila bajunya tidak sempit dan lebar. Sedangkan apabila ketat, walaupun menutup warna kulit, itu dapat meperlihatkan bentuk seluruh atau sebagian badannya, sehingga bentuk badannya tersebut tergambar di mata para lelaki. Ini ialah salah satu bentuk kerusakan dan seolah mengundang orang-orang untuk melihat bentuk badannya yang tidak ia tutupi dengan benar itu.
maka dari itu, baju perempuan itu wajib tidak sempit. Usamah bin Zaid pernah berkata:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam suatu waktu beliau memakaikan kepadaku sebuah baju Quthbiyyah yang tidak tipis. Pakaian tersebut yang lebih dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. kemudian saya memakaikan baju tersebut untuk istriku. Pada suatu kala Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menanyakanku:
‘mengapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab: ‘Baju itu kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata: ‘Suruh ia menggunakan baju rangkap di di dalamnya sebab saya khawatir Quthbiyyah itu meperlihatkan bentuk pada bagian tulangnya’” (HR. Dhiya Al Maqdisi di dalam Al Mukhtar 1/441, dihasankan oleh Al Albani). (Jilbab Mar’ah perempuan muslim, 1/131)

Syaikh Abdullah Al Faqih hafizhahullah saat di tanya ‘bagaimana saya mengetahui sebuah baju itu tidak ketat atau tidak tidak sempit? bagaimana ciri dan batasannya?’. Beliau memberikan sebuah jawaban yang sangat bijak: “Yang menjadi standar atau patokan apakah sebuah baju itu sudah tidak termasuk baju ketat dan tergolong baju tidak sempit yang dibenarkan syariat ialah hendaknya ia tidak meperlihatkan bentuk bagian badan. Oleh karena itu para ulama sering menggunakan istilah النهي عن الثوب المحدد (Larangan memakai baju yang meperlihatkan bentuk badan).
Ibnul Hajib (Al Maliki, wafat tahun 646H) mendefinisikan baju ketat: “yang mepertontonkan bagian
bagian badan baik disebabkan karena sangat tipis atau disebabkan karena ketatnya”, demikian beliau berkata di dalam kitab Syarh Al Mawaq Lil Mukhtashar Khalil. Ad Dardir (wafat tahun 1201H) juga berkata di dalam syarh-nya terhadap Al Muhktashar:
“Yang termasuk baju ketat ialah yang meperlihatkan bentuk aurat karena kainnya sangat tipis, atau karena sebab lain misalnya karena memakai sabuk, atau karena sangat sempit atau karena sangat menyelubungi badan”.

bersambung

Bagikan informasi tentang gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat kepada teman atau kerabat Anda.

gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat | GalleryAisyah

Belum ada komentar untuk gamis syar’i ditinjau dari sisi syariat

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
SIDEBAR