Kontak Kami

( pcs) Checkout

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Minggu & Hari Besar Tutup
Bahan Gamis terbuat dari Kain Wolfis Grade A Ukuran Gamis Mulai dari M,L dan XL satu set dengan Hijab dan Cadarnya
Beranda » Artikel Terbaru » gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan)

gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan)

Diposting pada 22 March 2017 oleh admin

gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan) – merupakan lanjutan dari postingan terdahulu.

gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan)

  1. Bukanlah busana/baju tipis sehingga warna kulit dan lekuk badannya tampak. Dari Usamah bin Said Ra: ”Rasulullah SAW pernah memberikan kain qibthi (sejenis kain tipis). Kain ini telah beliau terima sebagai hadiah dari Dahtah Al Kalabi tetapi selanjutnya kain tersebut akan aku berikan kepada istriku, maka tegur Rasulullah kepadaku: ”Mengapa tidak mau pakai saja kain qibthi itu?” Saya menjawab: ”Ya Rasulullah, kain tersebut telah saya berikan untuk istriku”. Maka sabda Rasulullah: ”Suruhlah dia memakai pula baju di anggota di dalamnya (kain tipis itu) karena aku khawatir nampak lekuk-lekuk badannya” (HR Ahmad). Dan dikisahkan pula dari Aisyah Ra (HR Abu Daud).
  2. Bukanlah busana/baju yang menyerupai laki-laki (seperti celana (seluar) panjang), tetapi bila sebagai tsaub/busana/baju yaitu boleh. Sebagai busana/baju di dalam, celana panjang tersebut panjangnya sepatutnya lebih pendek daripada jilbab itu sendiri. ”Rasulullahmelaknat laki-laki yang berbusana/baju seperti perempuan dan melaknat perempuan yang berbusana/baju seperti busana/baju laki-laki.” ‘(HR Abu Daud).
  3. Tidak memakai wangi-wangian yang bisa mengakibatkan menyebarnya bau yang dapat menarik perhatian laki-laki. Sabda Rasul SAW: ”Siapa saja seorang perempuan yang biasa memakai wewangian selanjutnya berjalan melewati suatu kaum dengan maksud agar supaya mereka bisa mencium harumnya, maka ia telah berzina.” (HR Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah).

 

Busana/baju tsaub

Sedangkan kewajiban memakai busana/baju tsaub (busana/baju di dalam, busana/baju sehari-hari ketika di rumah yang tidak ada laki-laki asingnya) dapat dipahami berdasarkan pengertian dalalatul isyarah bahwa setelah dilepaskannya jilbab/busana/baju luar bukan berarti perempuan tua tersebut tanpa busana sama sekali. (Imam Muhammad Abu Dzahrah di dalam kitab Ushulul Fiqh: 164-147, Abdul Wahab Khallaf di dalam kitab Ilmu Ushul Fiqh: 143-153, dan Syeikh Taqiyuddin an Nabhani di dalam kitab Asyakhshiyah Islamiyah juz 3: 178-179).

[sumber: alhijrah]

  1. Bagaimana dengan warna busana/baju muslimah

Sama sekali bukanlah termasuk kategori perhiasan jika busana/baju yang dipakai oleh seorang perempuan itu tidak berwarna putih atau hitam. Karena hal ini terkadang disalahpahami oleh sebagaian kaum perempuan yang ingin komitmen (dengan agamanya).

Alasannya yaitu:

Pertama, adanya sabda Rasulullah: “Parfum perempuan yaitu yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya…. (Had its ini tersebutdi di dalam kitab Mukhtashar Asy-Syama’il, hadits no.188)

Kedua, adanya praktek para perempuan sahabat yang memakai busana/baju yang berwarna selain hitam dan putih…. Berikut ini saya kemukakan beberapa kisah yang menunjukkan hal itu yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah di di dalam kitab Al-Mushannaf (VIII: 371-372):

  1. Dari Ibrahim, yaitu Ibrahim An-Nakha’i, bahwa pernah dia berbarengan Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi dan dia menyaksikan mereka memakai busana/baju-busana/baju panjang berwarna merah.
  2. Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia bertutur, “Saya pernah menyaksikan Ummu Salamah memakai baju dan busana/baju panjang yang berwarna kuning.”
  3. Dari Al-Qasim, yaitu Ibnu Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq, bahwa Aisyah pernah memakai busana/baju yang berwarna kuning, padahal dia sedang melakukan ihram.
  4. Dari Hisyam, dari Fathimah bintu Al-Mundzir, bahwa Asma’ pernah memakai busana/baju yang berwarna kuning padahal dia sedang ihram.
  5. Dari Sa’id bin Jubair bahwa dia pernah menyaksikan sebagian dari istri-istri Nabi thawaf mengelilingi ka’bah dengan memakai busana/baju berwarna kuning.

[Jilbab perempuan Muslimah, Syaikh Nashirudin al-Abani]

  1. Bagaimana dengan busana/baju bermotif?

Ada hadits yang menunjukkan tentang sahabiyah yang memakai busana/baju dengan motif bergaris. (Masih di dalam proses searching haditsnya, padahal kapan hari nemu)

  1. Apakah wajib bercadar?

Gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini Lagi-lagi dari ‘jilbab perempuan muslimah’nya syaikh al-Abani saya menyimpulkan tidak ada kewajiban menyembunyikan wajah tsb. Berikut kutipannya:

Seakan akan mereka ini, berdasarkan pendapat ulama tadi, mengharuskan perempuan menyembunyikan wajahnya; padahal tidak demikian. Dikarenakan mereka semua juga sudah tahu, bahwa syarat tersebut juga sebenarnya berlaku juga untuk perempuan. Para perempuan diperbolehkan menyaksikan wajah laki-laki dengan sebuah syarat harus aman dari fitnah (syahwat). Apakah dengan hal yang seperti itu, lalu mereka mengharuskan kaum laki-laki menyembunyikan wajah dari pandangan perempuan, untuk mencegah fitnah (syahwat) seperti yang sering dilakukan oleh sebagian para kabilah yang dikenal dengan sebutan Al-Mulatsamin?!

Mohon koreksinya jika ada yang salah. Semoga bermanfaat.

Bagikan informasi tentang gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan) kepada teman atau kerabat Anda.

gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan) | GalleryAisyah

Belum ada komentar untuk gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini (lanjutan)

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
OFF 11%
STOK HABIS
SIDEBAR