Kontak Kami

( pcs) Checkout

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Minggu & Hari Besar Tutup
Bahan Gamis terbuat dari Kain Wolfis Grade A Ukuran Gamis Mulai dari M,L dan XL satu set dengan Hijab dan Cadarnya
Beranda » Artikel Terbaru » gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini

gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini

Diposting pada 22 March 2017 oleh admin

Gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini, biasanya para ulama akan membahas hal hal yang terkini tak terkecuali masalah gamis yang syar’i

gamis syar'i menurut pandangan ulama terkiniAurat perempuan

Para ulama secara mayoritas telah bersepakat berdasarkan dalil-dalil yang ada untuk menetapkan bahwa batas aurat seorang perempuan yaitu seluruh badannya, kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Di dalam bahasa arab, disebutkan jami’u badaniha illa al-wajha wal kaffaini (seluruh badannya kecuali wajah dan dua tapak tangan).

Mungkin yang jadi titik permasalahan di sini yaitu tentang istilah telapak tangan. Di dalam bahasa Indonesia, kalau al-kaffaini diterjemahkan sebagai telapak tangan, sebenarnya bukan penerjemahan yang tepat. Karena yang dimaksud dengan al-kaffaini yaitu tapak tangan, mencakup anggota di dalam (bathinul kaff) dan juga anggota luar atau punggung (zhahirul-kaf). Sedangkan bila diterjemahkan dengan telapak tangan, maka yang dimaksud hanya anggota di dalam tapak tangan saja.

Penerjemahan yang tepat yaitu tapak tangan yang mencakup anggota di dalam dan luarnya. Sehingga batas mulainya aurat yaitu pada pergelangan tanganya (ar-risghu).

Dengan demikian, ketika ada seorang perempuan shalat dengan terlihat punggung tangannya, belum termasuk terlihat auratnya. Karena punggung tangan bukan termasuk aurat, jadi memang boleh terlihat.

[jawaban Ahmad Sarwat, Lc. di dalam konsultasi di eramuslim]

  1. Tentang Jilbab & Khimar (kerudung)

Di dalam kehidupan umum Gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini, yaitu pada saat seorang perempuan keluar rumah atau pun perempuan di di dalam rumah berbarengan pria yang bukan muhrimnya maka syara’ telah memberi kewajiban kepada perempuan untuk berjilbab. busana/baju jilbab yang diwajibkan tersebut yaitu memakai khimar/kerudung, jilbab/busana/baju luar dan tsaub/busana/baju di dalam. Jika bertemu dengan pria yang bukan mahromnya/keluar rumah tanpa menggunakan jilbab tersebut walaupun sudah menyembunyikan aurat maka ia dianggap telah berdosa karena telah melanggar dari syara’. Jadi pada saat itu perempuan Muslimah harus memakai tiga jenis busana/baju sekaligus yaitu khimar/kerudung, jilbab/busana/baju luar dan tsaub/busana/baju di dalam.

Khimar (kerudung)

Perintah syara’ untuk memakai khimar bagi perempuan yang telah baligh pada kehidupan umum terdapat di dalam QS An Nuur: 31. Kata juyuud di dalam ayat tersebut merupakan bentuk jamak dari kata jaibaun yang berarti kerah baju kurung. Oleh karena itu yang dimaksud ayat itu ”sepatutnya perempuan Mukminah menghamparkan penutup kepalanya di atas leher dan dadanya agar leher dan dadanya tertutupi”.

Berkaitan dengan Gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini, Imam Ali Ash Shabuni di dalam Kitab Tafsir Ayatil Ahkam bertutur: ”Firman Allah, sepatutnya mereka mengulurkan kerudung mereka” itu digunakan kata Adh dharbu yaitu mubalaghah dan di muta’adikannya dengan harf bi yaitu memiliki arti ”mempertemukan”, yaitu kerudung itu hendaknya terhampar sampai dada supaya leher dan dada tidak tampak (juz 2: 237).

Perempuan jahiliyah berbusana/baju berlawanan dengan ajaran Islam. Mereka memakai kerudung tetapi dilipat ke belakang/punggung dan anggota depannya menganga lebar sehingga anggota telinga dan dada mereka nampak (lihat Asy Syaukani di dalam Faidlul Qodir dan Imam Al Qurtubi di dalam Jaami’u lil Ahkam juz 12: 230). Di zaman jahiliyah apabila mereka hendak keluar rumah untuk mempertontonkan diri di suatu arena mereka memakai baju dan khimar (yang tidak sempurna) sehingga tiada bedanya antara perempuan merdeka dengan hamba sahaya (Muhammad Jalaluddin Al Qasimi di dalam Mahaasinut Ta’wil, juz 12:308).

Jilbab / Gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini

Ada pun untuk memakai jilbab bagi perempuan di dalam kehidupan umum dapat kita perhatikan QS Al Ahzab: 59. Allah SWT memberikan batasan mengenai busana/baju perempuan anggota bawah. Arti lafadz yudniina yaitu mengulurkan atau memanjangkan sedangkan makna jilbab yaitu malhafah, yaitu sesuatu yang dapat menyembunyikan aurat baik berupa kain atau yang lainnya. Di dalam kamus Al Muhith disebutkan bahwa jilbab yaitu busana/baju lebar dan longgar untuk perempuan serta dapat menyembunyikan busana/baju sehari-hari (tsaub) ketika hendak keluar rumah. Ummu Atiya Ra: ”Rasulullah SAW memberikan perintahnya kepada kami supaya keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik para gadis yang sedang haid maupun yang sudah menikah. Mereka yang sedang mendapatkan haid agar tidak mengikuti shalat dan mendengarkan kebaikan serta nasihat-nasihat kepada kaum Muslimin. Maka Ummu Athiyah bertutur: Ya Rasulullah, ada eseorang yang tidak memiliki jilbab maka Rasulullah SAW bersabda: ”Sepatutnya saudaranya meminjamkan kepadanya”(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i).

Adapun jilbab/busana/baju luar yang disyaratkan yaitu:

  1. Menjulur ke bawah sampai menyembunyikani kedua kakinya (tidak berbentuk potongan atas dan bawah, baik rok atau celana (seluar) panjang) karena firman Allah SWT: ”Dan sepatutnya mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh badan mereka”,

yaitu sepatutnya diulurkan jilbabnya ke bawah sampai menyembunyikan kaki anggota bawah. Karena dikisahkan dari Ibnu Umar Ra yang bertutur bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Siapa saja manusia yang mengulurkan busana/baju karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat.Ummu Salamah menyanyakan: ‘Bagaimanakah perempuan dengan ujung busana/baju yang dibuatnya?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Sepatutnya diulurkan sejengkal’. Ummu Salamah menyanyakan lagi: ‘Kalau demikian telapak kakinya terbuka?’ Maka jawab Nabi SAW: ‘Jika demikian panjangkanlah sehingga sampai satu hasta dan jangan ditambah’.” (HR Jamaah).Hadis ini menjelaskan bahwa jilbab diulurkan kebawah sampai menyembunyikan kedua kakinya. Walaupun kedua kakinya tertutup dengan kaus kaki atau sepatu, maka hal tersebut barang tentu tidak menggantikan fungsi mengulurkan jilbab yang dihamparkan sampai ke bawah sehingga kakinya tidak tampak.

Gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini ….. Bersambung….

Bagikan informasi tentang gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini kepada teman atau kerabat Anda.

gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini | GalleryAisyah

Belum ada komentar untuk gamis syar’i menurut pandangan ulama terkini

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
OFF 11%
Rp 245.000 Rp 275.000
Ready Stock / A455CK
OFF 10%
Rp 185.000 Rp 205.000
Ready Stock / A411CT
SIDEBAR